I.
PENDAHULUAN
II.
I.I. Latar Belakang
Danau adalah
cekungan yang terjadi karena peristiwa alam yang menampung dan menyimpan air
hujan, mata air, rembesan, dan/atau air sungai. Waduk adalah badan air baik
yang alami maupun buatan, yang digunakan untuk menyimpan, mengatur, dan
mengendalikan sumber daya air. Air adalah fasa cair dari persenyawaan kimia
yang dibentuk oleh dua bagian berat hydrogen dan 16 bagian berat oksigen.
Didalam air itu dikandung pula sejumlah kecil air berat, gas, dan zat padat,
terutama berbentuk garam dalam larutan. Benda cair seperti yang biasa terdapat
didanau, sungai, rawa, sumur dan sebagainya. (Hehannusa, P.E. dan Haryani, Gadis S., 2001).
Perairan umum merupakan bagian permukaan bumi yang secara permanen
berkala digenangi air, baik air tawar, payau, atau laut yang dihitung dari
garis pasang surut terendah ke arah daratan dan badan air tersebut terbentuk
secara alami maupun buatan (Dinas Perikanan Tingkat 1 Propinsi
Riau, 1997).
Perairan
Indonesia mempunyai potensi yang cukup besar terutama sector perikanan maupun
keperluan lainya. Ini dapat dilihat dari luas perairan yang ada dan jenis ikan
yang terdapat di dalamnya (Djuhanda, 1981).
Air merupakan bagian yang esensial dari protoplasma dan dapat dikatakan
bahwa semua jenis kehidupan bersifat aquatic. Dalam prakteknya suatu habitat
aquatic apabila mediumnya baik external maupun internal adalah air. Aquatic
merujuk perairan yang meliputi laut, sungai, danau, gua basah, air tanah, rawa
baik asin maupun tawar dan sejenisnya (Penuntun
Praktikum Ekologi Perairan, 2006).
Perikanan umumnya tidak
mengkonsumsi air, tapi sangat memerlukan kondisi kualitas dan kuantitas air
tertentu, termasuk perlindungan lingkungan dan kelestarian fungsi sumberdaya
flora dan fauna yang terdapat dalam air. Kualitas air secara luas dapat
diartikan secara fisik, kimiawi dan biologis yang mempengaruhi manfaat
penggunaan bagi manusia baik secara langsung maupun tidak langsung (Boyd,
1979).
Berdasarkan bentuknya waduk dapat diklasifikasikan atas waduk tipe danau
(lake type), tipe sungai (river type), tipe bercabang banyak (multiple branch
type). Waduk Faperikan dapat digolongkan kedalalm tipe danau, karena terjadinya
waduk ini akibat pembendungan suatu dataran rendah dan bentuknya yang melebar.
Sumber air ini adalah air yang mengalir dan meresap dari catchman area
yang ada disekitarnya, karena tidak ada aliran sungai yang masuk ke waduk ini (Nurdin et al, 1996).Manfaat penentuan
posisi ada dua yaitu memudahkan kembali titik atau area yang telah ditentukan (
titik sampling, titik kedalaman, habitat ). Dan memudahkan pengeplotan titik
atau area kedalam peta untuk kepentingan analisis ke ruangan. (Penuntun
Praktikum Limnologi, 2006 ).
Umumnya ciri-ciri danau buatan
ini adalah adanya fluktuasi tinggi permukaan air dan tingginya turbiditas air
(Koesoebiono, 1997), selanjutnya Siagian (1997) mengemukakakan bahwa pada waduk
terjadi fluktuasi air masuk dan air keluar sehingga ada pergantian nutrien yang menyebabkan produksi primer pada waduk lebih
besar dibandingkan dengan danau.
1.2. Tujuan dan Manfaat
Tujuan
diadakan Praktikum ini adalah mahsiswa dapat melihat dan mengamati serta
mengetahui berbagai jenis benthos dan tumbuhan air yang ada di waduk buatan
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan yang diambil pada tanggal 25 November 2011
yang lalu. Sehingga nantinya setiap mahasiswa memiliki pengetahuan tentang
beberapa jenis benthos dan tumbuhan air.
Adapun
manfaat dari praktikum ini yaitu setiap mahasiswa dapat langsung terjun
kelapangan serta dapat langsung melihat atau mempraktekan bagaimana cara mengambil benthos dan tumbuhan
air.
II.
TINJAUAN PUSTAKA
TINJAUAN PUSTAKA
Benthos adalah organisme (nabati /
fitobenthos atau hewani / zoobenthos) yang tinggal di dalam dan atau di atas
sedimen di dasar suatu perairan. (Penuntun praktikum ekoper 2010)
Organisme benthos ini meliputi jenis-jenis dari kelompok Protozoa, Sponge,
Coelenterate, Rotifera, Nematode, Bryozoa, Decapoda, Ostracoda, Cladocera, Cpopoda,
Pelecypoda, Gastropoda, Insekta, dan Lintah. Keberadaan hewan ini dipengaruhi
oleh kondisi fisika (substrat, kekeruhan, arus, kedalaman, dan suhu), disamping
juga dipengaruhi oleh factor kimia ( pH, O2, dan bahan-bahan toksik )
dan factor biologi (predator dan kompetitor).
Bentos adalah organisme perairan yang hidupnya berasosiasi dengan dasar
perairan. Dia dapat hidup pada dan didalam dasar perairan. Gerakannya sangat
terbatas pada perairan sehingga dia sangat baik dijadikan indikator biologi
untuk menerangkan atau menunjukkan kondisi perairan apakah perairan itu
tercemar atau tidak.
Menurut Meadows dan Cambell (1978), biomas (jumlah total bahan organic)
dalam benthos yang terdapat pada tiap kedalaman adalah berbeda. Pada kedalaman
0-200 m jumlah rata-rata biomas benthos adalah 200 gr/m2 , dan pada
kedalaman 200-3000 m sekitar 20 gr/m2 dan pada kedalaman lebih dari
3000 m, jumlah biomas benthos adalah 0,2 gr/m2 .
Hehanusa
(2001) Bentos adalah organisme yang hidup di permukaan atau di dalam sedimen
dasar di suatu badan air
Hewan-hewan benthos dalam
memanfaatkan detritus dengan cara suspension feeder yakni dengan cara menyaring
partikel-partikel yang masih melayang-layang di air yang ada di sekitarnya dan
dengan deposit feeders yakni mengumpulkan detritus yang telah menetap di dasar.
Benthos sebagai organisme dasar
suatu perairan mempunyai habitat yang relatif tetap. Perubahan kualitas air dan
substrat tempat hidupnya sangat mempengaruhi komposisi dan kelimpahannya,
sehingga kelompok organisme ini sering digunakan sebagai indicator pencemaran
di dalam suatu ekosistem perairan (Siagian, 1971).
III.
METODE PRAKTIKUM
3.1. Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilakasanakan pada hari Jum’at tanggal
25
November 2011 pada pukul 08.00 – 17.00 WIB di Laboratorium Ekologi
Perikanan.
3.2. Alat dan
bahan
Pada praktikum
analisis parameter benthos ini menggunakan beberapa peralatan, diantaranya :
eckman grab, Petersen grab, kantong plastic, dan karet gelang. Sedangkan bahan
yang digunakan adalah formalin, Lugol untuk mengwetkan benthos yang sudah
diambil dan dimasukkan kedalam kantong plastik
3.3. Metode Praktikum
Metode yang digunakan dalam praktikum ini adalah dengan menggunakan
metode mengambil data langsung dilapangan, kemudian dianalisis dan
diidentifikasi di laboratorium untuk menentukan nilai dari parameternya.
3.4. Prosedur Praktikum
Para Praktikan terjun langsung ke lapangan dengan mengambil tumbuhan air
secara langsung dan mengambil benthos dengan menggunakan pipa paralon. Setelah
itu diamati di laboratorium limnologi universitas riau.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil
Dari praktikum “Analisis
Kualitas Air : Parameter Biologi Benthos dan Tumbuhan Air” yang telah dilaksanakan maka didapatkan hasil
sebagai berikut :
Tabel 1. Jenis Benthos
No.
|
GAMBAR
|
NAMA
|
|
1
|
|||
2
|
|||
3
|
|||
4.1. Pembahasan
Benthos adalah organisme (nabati/fitobenthos atau
hewani/zoobenthos) yang tinggal di dalam dan atau di atas sedimen di dasar
suatu perairan. (Penuntun praktikum ekoper 2010)
Organisme
benthos ini meliputi jenis-jenis dari kelompok Protozoa, Sponge, Coelenterate,
Rotifera, Nematode, Bryozoa, Decapoda, Ostracoda, Cladocera, Cpopoda,
Pelecypoda, Gastropoda, Insekta, dan Lintah. Keberadaan
hewan ini dipengaruhi oleh kondisi fisika (substrat, kekeruhan, arus,
kedalaman, dan suhu), disamping juga dipengaruhi oleh factor kimia (pH, O2,
dan bahan-bahan toksik) dan factor biologi (predator dan kompetitor).
Peranan hewan benthos di
perairan :
1. Mampu mendaur ulang bahan organik.
2. membantu proses mineralisasi.
3. Menduduki posisi penting dalam rantai
makanan.
4. Indikator pencemaran, karena siklus
hidupnya yang penjang dan sifat pergerakannya yang terbatas.
Hehanusa (2001) Bentos adalah organisme yang hidup
di permukaan atau di dalam sedimen dasar di suatu badan air.
Menurut Asriyanto (1986)
makrozobenthos adalah hewan benthos yang tidak lolos dari ayakan dengan luas
mata saring 1 mm2. Selanjutnya Odum (1971) menyatakan bahwa yang
termasuk kedalam makrozobenthos antara lain insekta, annelida, bivalve, dan
gastropoda.
Bentos adalah organisme perairan yang hidupnya
berasosiasi dengan dasar perairan. Dia dapat hidup pada dan didalam dasar
perairan. Gerakannya sangat terbatas pada perairan sehingga dia sangat baik
dijadikan indikator biologi untuk menerangkan atau menunjukkan kondisi perairan
apakah perairan itu tercemar atau tidak.
Dilihat dari segi makanannya,
Cummins (1974) menyatakan bahwa makro zoobentahos dapat bersifat autochthonous
(misalnya vegetasi meti, periphiton, dan makrophita) dan bersifat
allotochthonous (misalnya vegetasi tepian sungai, limbah dan sampah dari
aktivitas manusia). Sumber makanan oirganik berasal dari vegetasi tepian sungai
yang jatuh dan langsung masuk ke dalam sungai, maupun yang telah diproses di darat
dan langsung masuk ke dalam sungai melalui air permukaan dan melalui air
tanah.
Menurut Odum (1971) benthos
adalah berbagai jenis organisme yang mendiami suatu perairan. Benthos yang
hidup diatas dasar perairan disebut epifauna, sedangkan benthos yang hidup
membenamkan diri atau membuat lubang dalam lumpur pada substrat lunak disebut
infauna.
V.
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
Setelah praktikum didapat hasil
bahwa di waduk faperika terdapat banyak jenis benthos. Sehingga dapat dikatakan
bahwa waduk faperika tergolong dalam waduk yang subur.
5.2. Saran
Agar praktikum ini dapat berjalan dengan lancar maka
alat yang digunakan hendaknya dilengkapi agar tidak saling pinjam dan para praktikan
mengerti dengan alat yang digunakan selama praktikum. Kemudian setiap praktikan
diharapkan serius dalam pengambilan data.
DAFTAR PUSTAKA
Adriman, 2006. Penuntun pratikum
ekologi perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau.
Pekanbaru
Alearts, G. dan S. Santika, 1984. Metode Pengukuran Kualitas Air. Usaha Nasional. Surabaya.
Boyd, C. E. 1982.
Water Qualitas in Warn Water Fish Pond Agriculture Experimen Stasion Aurburh
University. Albana. 3591 pp.
Dahril, T. 1998.
Reformasi di Bidang Perikanan Menuju Perikanan Indonesia Yang Tangguh Abad
ke-21, hal 25-34. Dalam Feliatra (editor) Strategi Pembangunan Perikanan
dan Kelautan Nasional Dalam Meningkatkan Devisa Negara. Universitas Riau
Press. Pekanbaru.
Davis, C. C., 1955. The marine and Fresh Water
Plankton Michigan
States University Press. New York
561 p
Efawani. 2006. Limnologi. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Universitas Riau. Pekanbaru.
Effendi,H., 2000. Telaahan Kualitas Air Bagi
Pengelolaan Sumberdaya dan Lingkungan
Perairan. IPB Press. Bogor .
Pembangunan Pertanian.
Jakarta, 80 hal.
UNESCO.Ntac, 1986. Water Quality Criteria.
FWPCA. Washington. DC.23
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis mengucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa karena
berkat rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan laporan praktikum
yang berjudul “Benthos” tepat pada waktu yang telah ditentukan.
Tidak lupa penulis mengucapkan
rasa terima kasih kepada para asisten limnologi karena telah memberikan arahan dan bimbingan
sehingga laporan ini dapat disusun.
Penulis
menyadari bahwa dalam penulisan laporan ini terdapat kekurangan baik dari segi
penyusunan, bahasa serta materi yang terdapat di dalamnya. Oleh karena itu
penulis menerima kritikan yang sifatnya membangun demi kesempurnaan laporan
praktikum di masa yang akan datang. Semoga laporan praktikum ini bermanfaat
bagi kita semua.
Pekanbaru, 06 Desember
2011
Endang
Sulistya Ningsih
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
1. Jenis Benthos........................................................................................ 7



DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran Halaman
1.
Gambar alat yang digunakan.................................................................. 18
LAMPIRAN
Lampiran 1. Alat-alat yang digunakan selama praktikum
Pipa Paralon Kantong
plastik
Penuntun Praktikum Alat
Tulis
Nama Asisten: Sumayanti
Hari : Jum’at/1
Analisis Kualitas Air
Benthos
Nama : Endang Sulistya Ningsih
Nim : 1004121867
Jurusan : Teknologi Hasil Perikanan

LABORATORIUM EKOLOGI PERAIRAN
JURUSAN TEKNOLOGI HASIL PERIKANAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN LMU KELAUTAN
UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU
2011
DAFTAR ISI

Halaman
KATA PENGANTAR............................................................................... i
DAFTAR ISI.............................................................................................. ii
DAFTAR GAMBAR................................................................................. iii
DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................ iv
BAB I. PENDAHULUAN..................................................................... 1
1.1. Latar
Belakang............................................................... 1
1.2. Tujuan............................................................................ 2
BAB
II. TINJAUAN PUSTAKA............................................................. 4
BAB III. METODE PRAKTIKUM.......................................................... 6
3.1. Waktu dan Tempat......................................................... 6
3.2. Alat dan Bahan.............................................................. 6
3.3. Metode Praktikum......................................................... 6
3.4. Prosedur Kerja............................................................... 6
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN.................................................. 7
4.1. Hasil................................................................................ 7
4.2.
Pembahasan..................................................................... 8
BAB
V. KESIMPULAN......................................................................... 10
5.1. Kesimpulan..................................................................... 10
5.2. Saran............................................................................... 10
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

Tidak ada komentar:
Posting Komentar